Sinopsis Jodha Akbar Rabu 10 Desember 2014

views 2020 Kali dilihat
Sinopsis Jodha Akbar Rabu 10 Desember 2014by iBerita Unikon.Sinopsis Jodha Akbar Rabu 10 Desember 2014iBerita Unik – Sinopsis Jodha Akbar Rabu 10 Desember 2014 – Pada Scene Kali ini menceritakan tentang Jalal, Salima, dan Jodha berdiri dalam diam. Mereka menanti kedatangan Ruqaiya. Kening Jalal sudah berkerut. Tapi dia tidak mengeluh atau berkata apa-apa.Akhirnyaa Maham dan Ruq muncul juga. Keduanya memberi salam pada Jalal yang membalasnya dengan anggukan kepala. Maham berkata, […]

iBerita Unik – Sinopsis Jodha Akbar Rabu 10 Desember 2014 – Pada Scene Kali ini menceritakan tentang Jalal, Salima, dan Jodha berdiri dalam diam. Mereka menanti kedatangan Ruqaiya. Kening Jalal sudah berkerut. Tapi dia tidak mengeluh atau berkata apa-apa.Akhirnyaa Maham dan Ruq muncul juga. Keduanya memberi salam pada Jalal yang membalasnya dengan anggukan kepala. Maham berkata, “Maaf, Yang Mulia. Kami terlambat. Seperti yang anda perintahkan, ketiga istri spesial anda telah hadir di sini.” Maham memberi tekanan pada kata Ketiga untuk membuat Ruq merasa terganggu. Dan dengan gestur serupa, dia mempersilahkan Ruq berdiri di antara para Ratu.

Jodha-Akbar-Zee-TV-640x327

Setelah ketiga istri spesialnya lengkap, Jalal berkata, “aku memanggil kalian karena alasan tertentu. Masalah Adham Khan tidak hanya menyangkut politik, tapi juga harga diri seorang wanita. Menurut hematku, kalian selalu mempunyai pendapat yang bagus jika menyangkut kebaikan kerajaan. Aku ingin mendengar pendapat kalian sebelum aku membuat keputusan. Silahkan beri pendapat kalian tentang masalah ini, agar aku bisa membuat keputusan yang adil.” Jalal menatap Jodha dan berkata padanya, “Ratu Jodha, kau ingin memberitahuku sesuatu saat sidang sedang berlangsung tapi ibu menghentikanmu. Saat sidang berlangsung kau adalah pihak pengadu dan aku hakim. Disini, kita tak terikat dengan kedudukan itu. Kau boleh terus terang dan utarakan pendapatmu.” Jodhamerasa senang mendapat kesempatan itu, kata Jodha, “pertama aku ingin berterima kasih padamu, yang mulia, karena telah memberi kesempatan padaku untuk membahas masalah ini dan karena telah menganggapku sebagai anggota keluarga terdekat.” Jalan mengangguk, Maham melirik dengan perasaan tak senang, Ruq merasa terganggu. Tapi Jodha tak perduli dia melanjutkan, “aku ingin meluruskan kalau aku tidak menentang kesimpulan yang di buat Maham Anga. Dia membuat kesimpulan berdasarkan hukum kerajaan. AKu juga tidak menentang Adham Khan. Aku hanya keberatan dengan sistem yang ada. Aku menentang kebijakan yang merendahkan harga diri wanita. Dan aku menentang kebijakan yang mengabaikan perasaan dan keinginan seorang wanita. Kebijakan ini sudah berlangsung selama berabad-abad. Masalah ini terjadi di semua bangsa dan diantara penganut agama berbeda. Wanita hanya objek untuk mendapatkan kepuasan. Orang tua menjual putrinya demi kekayaan dan kekuasaan.

Wanita di perlakukan seperti benda untuk di tukar. Dia di perlakukan seperti hadiah dan cindera mata. Dia juga di perlakukan sebagai kompensasi karena kalah perang. Aku sangat murka dengan sistem ini. Wanita bukanlah objek. Dia bisa menjadi ibu, puteri dan istri. Dia adalah akar dari semua makhluk hidup di muka bumi ini. Tapi sebagai balasannya, dunia telah membuat wanita sebagai objek. Kita harus merubah sistem ini, Yang Mulia.Kita harus memperbaharui sistem ini.” Jalal dengan tatapan prihatin berkata kalau dia mengerti kemarahan Jodha, “Tapi sudah menjadi adat bagi wanita untuk mematuhi orang tuanya, lalu mematuhi suaminya. Tapi untuk merubah adat itu, aku harus membuat hukum yang baru dan itu sulit di lakukan.” Maham menatap Jodha dengan sinis. Jalal lalu beralih pada Salima dan meminta pendapatnya. Salima berkata, “Yang Mulia, soal hukum yang berlaku aku setuju dengan kesimpulan yang di buat Maham Anga.” Maham angga terlihat senang mendapat dukungan Salima, dia mengangkat dagunya dengan bangga. Kata Salima, “sudah sejak lama, seperti inilah pernikahan di laksanakan dalam budaya kita. Tapi menyangkut harga diri seorang wanita, aku setuju dengan Ratu Jodha.” Jalal lalu menanyakan pendapat Ruqaiya. Tapi Maham yang menyahut dengan penuh percaya diri, “ratu Ruqaiya sangat paham dengan persoalan politik, Yang Mulia.

Aku yakin, dia setuju dengan kesimpulanku.” Ruq menyela dengan cepat, “tidak, Maham Anga. ~Maham terkejut, dan terlihat tidak senang~ Aku setuju dengan Ratu Jodha dalam masalah ini. Ratu Jodha berusaha menyelamatkan harga diri seorang gadis. Adalah sebuah pelanggaran menikahkan gadis di bawah umur dengan pria yang jauh lebih tua dan tanpa persetujuan darinya. Hanya Tasneem yang bisa memberitahu kita apakah dia di perlakukan adil atau tidak.” Ruq menyarankan Jalal agar berbicara dengan Tasneem untuk mengetahui apakah Tasnem setuju menikah dengan Adham atau tidak. Maham benar-benar terlihat Marah, tapi di depan Jalal dia tidak bisa berkata apa-apa. Ruq melanjutkan, “biarkan Tasneem yang memutuskannya.” Jalal mengangguk setuju dan berkata, “terima kasih, kalian bertiga sudah mau memberikan pendapat. Aku akan memikirkan masalah ini.” Ketiga istri merasa puas dengan tanggapan jalal. Tapi Maham terlihat kecewa.. Kata Jalal pada Maham, “Badi Ami, ~mendengar Jalal memanggilnya, Maham langsung tersenyum~ Aku ingin bicara dengan Tasneem saat sidang besok.”

scene2

Jodha duduk di kamarnya memikirkan ucapan Salima yang merasa senang karena Jalal menganggap Jodha sebagai istri khas/
istri kepala. Jodha berpikir, “aku tak mengerti apa yang di pikirkan Yang mulia. Terkadang dia marah padaku, kadang-kadang dia memperlakukan aku dengan sangat baik. Hari ini dia telah menjadikan aku istri spesialnya (Khass Begum).” Moti datang sambil berlari dengan wajah cemas. Dia menatap sekeliling kamar Jodha dan bertanya, “Jodha, ada apa? Kau baik-baik saja? Mengapa kau malam-malam memanggilku?” Jodha menyahut, “ya..ya, aku baik-baik saja. Mengapa nafasmu terengah-engah? ~Jodha menatap heran pada Moti yang terlihat cemas dan terengah-engah~ Tenanglah!” Moti terlihat lega dan mengucap syukur pada ambe ma, “syukurlah, kau baik-naik saja. Aku sangat kuatir padamu.” Jodha tersenyum, “aku memanggilmu karena ingin bicara denganmu.” Moti menghampiri Jodha, “aku tahu, itu sebabnya aku datang.” Moti berjongkok di depan Jodha dan menatapnya dengan rasa sayang, “aku pelayanmu, tapi kau perlakukan aku seperti teman dan kau selalu berbagi cerita padaku. Katakan, ada apa?” Jodha berkata, “Moti, hari ini Yang Mulia memanggilku bersama ratu Ruqaiya dan ratu salima. Dia ingin membahas kasus Adham Khan.” Moti menyahut, “baiklah. Lalu apa yang dia katakan hingga membuatmu gelisah?” Jodha berkata kalau dia tak gelisah soal kasus Adham Khan, “aku terkejut, Yang Mulia menganggapku sebagai salah satu istri spesialnya.” Moti dengan mata berkaca-kaca memeluk Jodha, “banarkah, Jodha? ~Moti melepas pelukannya~ Aku turut senang. Kau mendapat kedudukan yang layak di istana ini.” Jodha pun terlihat bahagia, “aku tidak mempercayainya. Apa yang membuat dia menjadikan aku sebagai istri spesialnya.” Moti heran mendengarnya, “lho?, Jodha, kau inikenapa? ~moti bangkit dan berdiri didepan Jodha~ Kau bingung saat dia tak mempercayaimu. Sekarang kau binggung saat dia percaya padamu. Katakan, apakah kau tak mau menjadi istri spesial?” Jodha ikut-ikutan berdiri, “entahlah Moti, itulah sebabnya aku ingin bertemu denganmu.” Moti menyahut cepat, “kau tak perlu kuatirkan apapun, Jodha. Aku yakin kegembiraan ini yang membuatmu tidak bisa tidur. Itu yang terjadi saat hal biasa menjadi luar biasa. Aku akan meninggalkanmu agar kau bisa memahami kabar ini. Oh ya, kau harus memahami kenyataan yang ada bahwa yang mulia tidak mengambil keputusan ini dari pikirnnya, tapi dari hatinya. ~Jodha menatap Moti~ Dia mulai menyukaimu, Jodha. Kau juga harus mengambil langkah kedepan. AKu pergi dulu.” Moti hendak pergi, tapi Jodha menahanya, “Moti, tunggu sebentar, aku ingin bicara denganmu tentang Tasneem.” Moti berkata, “Jodha, yang mulia menuduh Adham Khan setelah mempercayai perkataanmu. Dia memanggilmu untuk meminta pendapatmu. Kurasa beliau mempercayaimu. Kau juga harus percaya keputusannya menyangkut masalah ini.” Jodha tersenyum, Moti juga tersenyum, sebelum pergi Moti mengelus rambut Jodha penuh kasih. Pertemanan selalu indah jika saling memahami.
Seperti kata Moti, Jodha tak akan bisa tidur. Dan memang benar, Jodha susah tidur, dia sibuk memikirkan Jalal. Dia terbayang semua moment spesial yang dialaminya bersama jalal. Seperti ketika dia melihat Jalal menangis setelah memutuskan hubungan dengan Bakshi Bano, atau ketika Jalal menganggap hadiah Jodha yang terbaik di antara semua hadiah yang di terimanya saat ulang tahun dan memintanya untuk duduk di sampingnya. Atau saat Jalal secara pribadi mengunjunginya di tengah malam karena tidak sabar menunggu esok hari hanya untuk menggucapkan terima kasih dan berharap sepanjang hidupnya dia akan mendapat hadiah spesial dari Jodha. Jodha membayangkan peristiwa-peristiwa itu dan memikirkannya.

Pagi harinya di pengadilan, Tasneem hadir di dampingi ibunya. Tasneem dan ibunya segera berdiri di depan Jalal yang sedari tadi sudah berdiri menunggu kedatangannya. Ruq berkata pada Tasneem, “Tasneem, tidak perlu takut. Yang mulia ingin bicara denganmu, katakan dengan jujur dan jawab pertanyaanya.” Dengan polos Tasneem bertanya, “bukankah orang tuaku sudah bicara dengan Yang Mulia?” Jalal dengan lembut dan ramah menjawab, “benar. Tapi aku ingin bicara denganmu.” Maham angga juga berkata pada Tasneem, “Tasneem, Yang Mulia ada di sini, kau tak perlu takut. Jawab pertanyaannya dan jangan ragu.” Jalal tersenyum dan bertanya apa arti dari sebuah pernikahan menurut Tasneem. Tasneem menjawab, “ketika penghulu bertanya pada kita, kita mengatakan “ya / setuju’ itulah pernikahan.” Semua yang hadir agak tercengang mendengar jawaban polos Tasneem. Jalal terlihat sedikit memutar bola matanya, tak percaya dengan jawaban polos tasneem. Tanya Jalal lagi, “apalagi?” Tasneem menjawab, “kita memakai gaun yang baru dan kita makan hidangan yang disajikan di pernikahan.” lagi-lagi semua tercengang akan pemikiran tasneem. Kali ini, Maham yang memutar bola matanya dengan tak percaya.Jalal terlihat binggung sendiri, tapi dia tetap bertanya, “apakah kau ingin menikah?” Mahan menjadi cemas, yang lain menunggu dengan rasa ingin tahu. Tasneem menjawab, “ya.” Maham tersenyum senang. Yang lain menjadi heran dan penasaran, Jodha berkata, “kau bicara tentang perayaan pernikahan, Tasneem. Kau tahu apa yang terjadi setelah kau menikah?” Tasneem menjawab, “seorang istri akan memakai gaun yang bagus setelah dia menikah. Dan aku akan tinggal di istana yang besar.” Ruq dan Jodha terlihat prihatin dengan pemikiran Tasneem. Jalal tersenyum, “apakah menurutmu pernikahan seperti itu?” Tasnem menjawab, “ya.” Jalal tidak berkata apa-apa lagi, dia mengizinkan Tasneem untuk pergi. Tasneem dan ibunya memberi salam lalu pergi meninggalkan ruang sidang. Ruq berkata pada Jalal, “semoga anda mendapat jawaban, Yang Mulia. Aku harap anda paham mengapa dia ingin menikah.” Jalal terdiam.

Jalal berdiri di depan kisi-kisi jendela, dia terlihat sedang berpikir keras. Jawaban Tasneem di pernikahan tentang arti pernikahan menggangu pikiran Jalal. Terutama saat jalal bertanya apakah Tasneem ingin menikah, dan Tasneem menjawab ‘ya’.
Di kamarnya, Jodha sedang uring-uringan di depan Moti. Jodha sama sekali tidak mengerti kenapa Tasneem setuju untuk menikah, “aku yakin dia dipaksa oleh orang tuanya. Kau ingat tempo hari? Dia sembunyi di belakangku saat melihat Adham khan. Lalu sekarang kenapa dia memberikan persetujuan atas pernikahan ini? Apa dia takut dengan adham khan? Aku yakin dia telah di manipulasi”
DI kamarnya, Jalal masih berpikir keras. Di depan Jodha , Moti berkata, “apapun alasanya Jodha, Tasneem sudah setuju untuk menikah dengan Adham Khan di depan Yang Mulia. Kurasa sekarang kita tak bisa menghentikan pernikahan ini.” Jodha berkata kalau dirinya juga menkhawatirkan hal yang sama, “pernikahan ini bisa merusak masa depan seorang gadis kecil yang tak berdosa. Sekarang masa depannya tergantung pada keputusan Yang Mulia. Aku harap dia mempertimbangka
n fakta yang ada dengan baik, kemudian membuat kesimpulan.”

Di kampungnya, Tasneem sedang berjalan ketika temannya yang sedang bermain dengan anak-anak sebaya memanggil Tasneem dan mengajaknya bermain. Tapi Tasneem menolak, “tidak Resma, aku tidak bisa.” Resma menhampiri Tasneem dari balik pagar dan bertanya, “kenapa? Ayo kita bermain. ~Resma melihat air mata dipipi Tasneem.~ Mengapa kau menangis? Ibu bilang, anak gadis menangis jika dia akan berpisah dengan keluarganya setelah dia menikah, tapi tidak sebelum itu.” Tasnem dengan sedih berkata, “aku akan tambah menangis jika kau menyinggung soal pernikahan.” Resma berkata, “ibumu berjanji padaku akan memberikan gaun baru saat pernikahanmu.” Mendengar kata-kata Resma, Tasneem semakin sedih. Tiba-tiba terdengar suara penjual gelang menawarkan dagangannya, “gelang..gelang, jual gelang!” Resma memanggil penjual gelang itu. Penjual gelang yang tampan dan ramah itupun mendekat. Taukah anda siapa pejual gelang itu? Yup! dia adalah Kaisar kita, Jalaluddin Muhammad. Jalal dengan ramah bertanya pada Resma, “apa yang kau inginkan?” Resma menjawab kalau temannya akan menikah, “boleh kau tunjukkan gelang untuknya?” Resma mnunjuk Tasneem. Tapi Tasneem yang sedang menangis sedih, tanpa berkata apa-apa langsung pergi dari depan Resma. Jalal mengawasi Tasnem. Tapi kemudian pada Resma jalal berkata, “ya, aku sudah dengar seseorang dari desamu akan menikah. Itulah sebabnya aku datang kesini membawa gelang yang penuh warna.”

Ibunya sedang menunggu Tasneem di depan rumahnya. Melihat Tasnem, ibunya menegur, “Tasneem, kau dari mana? Kenapa kau terlambat?” Penjual gelang tiba di rumah Tasneem. Ibunya Tasneem memanggilnya. Jalal dengan senang hati datang ke rumah Tasneem. Ibunya tasneem membawa Jalal masuk kerumahnya. Jalal segera mengelar dagangannya dengan senang hati. Ibunya Tasneem bertanya berapa harganya. Jalal menjawab dengan ramah, “tak usah kuatir soal harga, pilih saja.” Ibunya tasneem menanyakan gelang untuk pernikahan. Jalal menunjukannya tapi dengan terlebih dahulu memberitahu ibunya tasneem kalau harganya mahal. Ibunya tasneem berkata kalau dia tak peduli dengan harganya, “jangan berpikir kalau kami miskin. Sebentar lagi kami akan menjadi kerabat Adham khan.

Tunjukkan gelangnya meski itu mahal.” Jalal menujukan gelang mahal yang di pajang di tempat terpisah. Mata ibunya Tasneem berbinar melihat gelang-gelang itu.”walaaah, indah sekali. Seperti yang di pakai para ratu.” Jalal menyahut, “ya. Bahkan ratu menyukai rancanganku.” Ibunya Tasneem menyela, “cukup! Cukup! Behentilah membohongi kami. Dan tunjukan gelang yang bagus untuk putriku.” Ayahnya Tasneem yang pemabuk, bangkit dari berbaringya dan berkata dengan setengah mabuk, “Aku akan menjadi penjaga benteng setelah tasneem menikah. Dan aku akan mendapatkan minuman sebanyak mungkin, semua berkat Adham Khan. Panjang umur Adham Khan!” Jalal terpana mendengar kata-kata ayah Tasnem. Ibunya Tasneem menegur Jalal yang bengong, menyuruhnya mengeluarkan gelangnya.

Tasnem berteriak sambil memangis, “aku tidak ingin gelangnya, aku tak ingin menikah. Adham khan orang jahat!” Ibunya Tasneem membujuk Tasneem, “diamlah nak, dan coba gelangnya.” Tasnem menolak, “kubilang aku tak mau menikah!” Ayahnya Tasneem berdiri dan menampar Tasneem. Jalal sampai berdiri karena kaget melihat perlakukan ayah Tasneem. Tasneem menangis sambil memegang pipinya yang bekas di tampar ayahnya. Ayahnya tasnem berkata, “diam! Beraninya kau menolak untuk menikah. Kau mau merusak hidup kami? Kau harus mematuhi perintah kami. Adham Khan sudah menjanjikanku sebagai penjaga benteng.” Ibunya Tasneem menimpali, “kita sudah setuju untuk menikah di depan yang mulia. Kami tak peduli dengan keinginanmu. Kau harus ingat itu!” Tasneem di sela-sela tangisnya menyahut, “aku setuju karena ibu memaksaku.”Ibunya Tasneem membentak,menyuruh Tasneem diam.

 

Melihat itu Jalal menegur, “mengapa kau memukul anak keci? Mengapa kau memaksanya menikah menentang keinginannya?” Ayahnya Tasneem segera menghampiri Jalal dan mencengkeram leher bajunya, “siapa kau berani ikut campur? Kau tidak kenal aku? ~Jalal sangat marah, tapi karena tidak ingin penyamarannya terbongkar. dia melampiaskan emosinya dengan meremas gelang yang masih terpegang di tangannya~ Lakukan saja pekerjaanmu dan pergi dari sini.” Jalal menjawab kalau dia tak mau menjual gelang pada ayah tasneem. Ayah tasneem berkata, “masih banyak penjual gelang di desa ini. Jika aku melihatmu lagi, aku akan menghajarmu. Aku yang putuskan putriku menikah atau tidak. Kau bukan ulama yang berhak komentar soal pernikahan putriku. Keluar! Ambil barang daganganmu dan keluar dari sini. Kau pikir siapa dirimu!” Dengan kemarahan yang di tahan, Jalal mengambil dagangannya dan keluar dari rumah Tasneem.

scene4
Jalal dalam perjalanan kembali ke istana ketika dia melihat iring-iringan tandu pengantin lewat di depannya. Jalal berhenti. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat seorang lelaki setengah baya menikahi gadis kecil yang masih sangat di bawah umur. Bahkan Jalal mendengar ketika si anak sambil memangis mengatakan kalau mainannya tertinggal di rumahnya. Si ayah malah membentak anaknya dan menyuruhnya diam. Si anak protes dengan mengatakan kalau dia tak ingin menikah. Si ayah membentak agar anaknya menurut saja dan jangan keras kepala. Jalal dengan geram campur prihatin berpikir, “apakah seperti ini keadaan di kerajaanku? Gadis di bawah umur di paksa untuk menikah dengan lelaki tua? Mereka masih terlalu polos untuk memahami pernikahan. Ratu Jodha benar. Aku harus bertindak! Hukum di buat demi kesejahteraan rakyat. Dan hukum tak boleh merusak masa depan seseorang. Ini keputusan yang sulit. Satu sisi ada harga diri wanita, di sisi lain adalah adat lama. Aku harus buat keputusan yang tepat.”

Jalal kembali ke istana dan telah berpakaian rapi layaknya seorang kaisar. Saat melewati taman, dia mendengar dua orang tukang kebun sedang berdebat. Tukang kebun mengatakan kalau seorang ratu memerintahkan dirinya untuk memindahkan bunga itu. Tukang kebun lain berkata, “ini adalah tumbuhan, salah satu makhluk hidup. Ini bukan benda yang dapat kupindahkan seenaknya. Jika kau pindahkan sebelum tumbuh, akarnya akan sayup, dan tumbuhan itu takkan bisa bertahan di manapun. Aku bisa memindahkannya setelah tumbuhan ini tumbuh.” Karena terlalu asyik berdebat, kedua tukang kebun itu tidak melihat Jalal berdiri di belakang mereka. Begitu tahu ada Jalal, keduanya segera bergegas berdiri dan memberi salam dan meminta maaf karena tidak menyadari keberadaan Jalal. Jalal hanya mengangguk. Kedua tukang kebun kemudian pergi. Jalal masih berdiri di tempatnya memikirkan kata-kata tukang kebun tadi. Dia menatap tanaman mawar yang baru tumbuh itu, mendekatinya dan jongkok di sampingnya. Dia memadang tanaman itu dengan rasa tertarik. Atgah yang datang menemuinya merasa heran dengan apa yang dilakukan Jalal tapi tidak bertanya, dia hanya memberi salam. Melihat Atgah, Jalal segera berdiri dan bertanya, “apakah ada yang menyadari kalau aku tidak ada di istana?” Atgah menjawab, “tidak, tuan. Anda kembali tepat pada waktunya.” Jalal memberitahu Atgah kalau kerajaan harus segera di selamatkan. Atgah berkata kalau dia tidak mengerti. Jalal melangkah pergi, atgah mengikutinya.

Sambil berjalan Jalal berkata, “Atgah shahab, aku mendengar tukang kebun mengatakan kalau tanaman akan mati jika di cabut akarnya dan memindahkannya sebelum pohon itu tumbuh.” Atgah membenarkan, “dia benar. Semua butuh waktu. Segala sesuatu yang tumbuh secara prematur tidak akan menguntungkan.”

Jalal berkata, “inilah bagian yang menyedihkan. Kita membicarakan tanaman, bukan manusia. Bagaimana dengan gadis kecil itu yang menikah sebelum mereka dewasa? Peristiwa di pasar itu mengejutkan aku, saat aku kembali dari rumah Tasneem, ada upacara pernikahan yang terjadi pada anak kecil. Suaminya bahkan lebih tua dariku.” Atgah menyahut, “aku mengerti maksud anda. Pernikahan dini itu tidak baik bagi umat manusia. Tapi ini adalah sebuah tradisi. Orang menganggap seorang gadis bisa beradaptasi di rumah suaminya jika dia melakukan pernikahan dini. Tradisi ini sudah lama di ikuti. Seringkali, anak-anak ini sulit untuk memahami arti dari sebuah pernikahan. Mereka hanya mengikuti tradisi.” Jalal berkata, “hukum seharusnya adil. Tradisi ini tidak adil, tradisi ini harus berubah. Apakah belum ada yang berniat untuk merubah hukumnya?” Atgah menyahut, “benar, tuan. Banyak raja pendahulu yang membuat hukum baru. Contohnya Allaudin Khilji dan Shershan Suri.” Jalal bertanya, “apakah hukum itu di terapkan?” Atgah menjawab, “rakyat mentaati hukum jika mereka mempercayai pemimpinnya. Mereka akan menjalaninya.” Jalal dengan bersemangat memberitahu Atgah, kalau dirinya akan membuat hukum baru mengenai masalah ini.” Adham keluar dari balik tiang. Ternyata dia menguping pembicaraan Jalal dan Atgah. Dalam hati Adham berkata, “oh..aku tak menyangka kalau masalah ini sampai sejauh ini. Akan ada larangan menikahi anak di bawah umur. Aku adalah putra Maham Anga, Adham Khan. Aku tidak akan tenang sampai aku mendapat apa yang aku inginkan.

Demikianlah Informasi tentang “Sinopsis Jodha Akbar Rabu 10 Desember 2014” semoga Bisa bermanfaat buat anda semua

Related Posts