Ekonomi

Kisah sedih pernikahan yang gagal, wanita ini menjadi gila hingga tinggal di dalam kandang bambu

Seperti kisah sedih seorang wanita di Cimahi yang mengalami stres karena ditinggal kekasihnya dan tak terus ke pelaminan.

Kegagalan menikah dapat menyebabkan luka yang dalam bagi seseorang.

Seperti kisah sedih seorang wanita di Cimahi yang mengalami stres karena ditinggal kekasihnya dan tak terus ke pelaminan

Pernikahan Yang Gagal
Foto Ilustrasi

Kisah sedih seorang wanita bernama Siti Rohimah atau Unyi yang gagal menikah dan kini hidup di penangkaran gara-gara ide menjadi warga negara, Odah dalam program Tanstv Dunia Kejam.

Seperti dikutip Wolipop, ibunya, Bibi Odah, mengaku bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Demi menghidupi keluarganya, ia bekerja di lokasi yang jauh dari rumah sehingga hanya bisa pulang sebulan sekali.

Unyi Mengalami Stress Selama 15 Tahun

Dan kandang bambu telah ditempati olehnya selama 7 tahun terakhir.

Menyedihkan hati, Unyi sering ditelantarkan karena ibunya sedang bekerja.

Sang ayah terkadang lupa memberinya makanan sehari-hari. “Kalau di rumah, kadang dia menurut kadang tidak. Saya pulang sebulan sekali. Saya urus dua minggu sekali.

Sekaligus kalian siapkan makanan dan minuman,” kata Bibi Odah tegas.

Lebih buruk lagi, Unyi hanya bisa mandi saat ibunya pulang. Jika tidak ada ibu, Unyi tidak akan mandi.

“Tidak ada yang di rumah.

Kalau selimutnya bau seperti Unyi diganti, baru diganti. Kalau saya Unyi sehat, mandi, bersih dan segar. Saya cuci. Alhamdulillah Unyi tidak digigit nyamuk,” ujarnya.

Saat ibunya memandikannya, Unyi terkadang marah. Padahal ibunya ingin Unyi bersih dan rapi meski di dalam sangkar bambu.

Kondisi Sepi Sebelum Tinggal di Selungkup Bibi Odah menceritakan, kondisi Unyi sebelum ia gagal menikah dan hidup terkurung karena stres, seperti halnya wanita pada umumnya.

Dia adalah anak baik yang cenderung pendiam. “Kalau ada orang itu, dia tidak mau keluar, tapi giliran orangnya yang tidak ada, dia keluar begitu saja,” jelasnya.

Selalu Membantu Ibunya

Unyi selalu membantu ibunya untuk membersihkan rumah dan merawat ketiga adiknya. “Waktu saya kecil, tante saya mencatat itu.

Kakaknya dulu pernah ngompol atau buang air besar, dia bersihkan,” lanjutnya. Unyi, seorang remaja, telah menempuh pendidikan di sekolah berasrama selama dua tahun.

Namun, dia sempat berhenti di tengah jalan karena kendala keuangan.

“Waktu saya umur 11-14 tahun Unyi saya bawa pulang karena tidak ada uang. Dia baik-baik saja saat itu,” tambahnya.

Unyi sudah dibawa berobat ke rumah sakit jiwa, namun pada akhirnya dia malah berakhir hidup di kurungan kandang karena.

Dikurung Didalam Kandang Bambu

Unyi Dikurung di Kandang Bambu Odah mengungkapkan bahwa dirinya pernah mencoba membawa Unyi ke rumah sakit jiwa di Cimahi, Bandung, Jawa Barat.

Selama di rumah sakit jiwa, tidak selalu menunjukkan kemajuan. Namun, meski sudah enam kali menjalani perawatan di rumah sakit, ia belum juga sembuh.

Odah kemudian membawa Unyi pulang karena dia tidak bisa tinggal di rumah sakit selamanya. Ketika dia kembali ke rumah Unyi, dia melarikan diri lagi.

Kesulitan ekonomi membuat Unyi tidak bisa mendapatkan perawatan yang tepat. Unyi semakin sulit diatur.

Dia sering kabur dan berteriak saat dipegang. Atas saran orang-orang Unyi, mereka akhirnya dikurung.

“Saat awal dikurung, tante saya ingin rajin masak dan mau susah. Tinggal dikurung saja, diceritakan oleh RT dan masyarakat. Enam tahun lalu dibuat kurugan bambu, dengan bantuan warga.

Saat mengisi Unyi saya tidak bertengkar alhamdulillah, ”lanjutnya. Bibi Odah juga bekerja sebagai PRT di Cimahi, merangkap sebagai pencuci, setrika, dan tukang pijat.

Meski sudah bekerja keras, langkahnya hanya Rp 50 ribu seminggu. “Saya kerja dari jam 07.00 sampai jam 00.00, kalau orang tidur jam 12 malam. Saya makan malam dan dilanjutkan cuci lulur dan tidur jam 03.00.

Jam 04.00 saya naik lagi ke gunung,” ujarnya. Untungnya, setiap pulang, dia diberi berbagai macam makanan dari majikannya.

Makanan yang dibawanya langsung diberikan kepada anak tersebut.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, Bibi Odah menyadari bahwa dirinya harus tetap bahagia dan sehat demi menafkahi suaminya dan Unyi. “Baiklah terima saja, ini musibah.

Harus ada aktivitas agar pikiran bergerak, dapat rezeki,” imbuhnya. Dalam hati kecilnya, dia ingin membuat tempat yang layak untuk bayi kesayangannya

Show More

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button