Ekonomi

Rela, Saat Aku Bersedia Melepaskan mu

Seorang laki-laki melirik jam tangan berwarna hitam yang melingkar di tangan nya.

“Kita rapat selepas pulang sekolah. Sekitar jam 3. Beri tahu anggota osis lainnya.” ujar Dzaky sang ketua osis
“Baiklah.” jawab salah satu anggota osis.

Hari pertama menjadi siswi baru di sekolah itu rasanya sulit. Sulit beradaptasi dengan orang-orang baru. Ini lah yang dirasakan Carissa, gadis imut yang memiliki lesung pipi yang sangat manis. Meskipun kota ini adalah kota kelahiran Carissa. Tapi selama 2 tahun meninggalkan kota yang disebut kota hujan ini, Carissa
merasa asing dengan kota Bogor. Banyak perubahan yang membuat Carissa merasa bingung. Dua tahun lalu Carissa terpaksa pindah sekolah, karena ayahnya ditugaskan di kota Surabaya. Carissa yang dulu masih duduk di bangku SMP harus rela meninggalkan sahabat terbaiknya di Bogor. Sebenarnya Carissa senang bisa kembali ke kota Bogor karena artinya ia bisa bertemu sahabatnya yang sangat ia rindukan.

“Carissa.” teriak seorang gadis.
Carissa menoleh ke sumber teriakan. Ia mendapati seorang gadis yang sedang berlari kecil ke arahnya. Carissa menyipitkan matanya dan membenarkan kaca matanya. Ternyata gadis itu adalah Elvia. Sahabatnya semasa SMP. Sahabat yang tak pernah bosan menghubungi Carisaa saat di Surabaya, sahabat yang sangat Carissa rindukan. Carissa tersenyum bahagia saat berhadapan dengan sahabatnya. Elvia memeluk Carissa dengan hangat. Mereka berdua berpelukan layaknya sepasang saudara yang dipisahkan bertahun-tahun.
“Gue kangen lo Sa.” ujar Elvia seraya melepaskan pelukannya.
Carissa mengangguk pelan. “Gue juga Vi.”
“Lo banyak berubah ya Vi, sekarang lo agak kurus dan tambah cantik.” puji Carissa dengan tulus.
“Oh ya? Berarti program diet gue berhasil dong.” kata Elvia menimpali.
Carissa dan Elvia pun tertawa cekikikan.
“Masuk kelas apa lo Sa?” tanya Elvia.
“Tadi sih kata kepala sekolah, XI Ipa 4.”
Elvia melebarkan matanya. “Ha? Serius Ipa 4? Sekelas dong sama gue.” komentar Elvia dengan senang.
“Oh ya?” ucap ku tak percaya.
Elvia mengangguk mantap. Dan mereka berdua segera berjalan menuju kelas mereka.

“Jam 3 rapat osis.” ucap seorang perempuan yang sedang berbicara dengan Elvia.
Carissa menatap Elvia yang hendak menghampiri dirinya.
“Nih Sa batagornya.” ujar Elvia seraya menyodorkan batagor.
“Makasih Vi”
Elvia mengangguk dengan senyum.

“Vi, cewek yang tadi siapa?” tanya Carissa.
Elvia menganggkat alisnya. “Cewek yang mana?”
“Itu loh yang tadi ngasih info osis.”
“Oh, itu kak Keyla. Kapten cheers di SMA ini.”
“Wah pasti populer ya, pantas aja cantik.” komentar Carissa memuji.
“Iya populer dan cantik tapi sifatnya gak banget Sa.”
“Maksudnya?” tanya Carissa tak mengerti.
“Nanti lo juga tau.”
Carissa hanya manggut-manggut. Tak bertanya lebih lanjut.
“Vi, kak Dzaky sekolah dimana ya sekarang?” tanya Carissa pelan.
“Ya ampun iya ka Dzaky. Gue mau bicarain itu sama lo.” ucap Elvia dengan mulut yang masih terisi batagor.
“Bicarain apa?”
“Kak Dzaky ketua osis di SMA Pangkal Perjuangan ini.” jelas Elvia.
“Dia juga nanyain kabar lo Sa. Semenjak lo pindah ke Surabaya, setau gue kak Dzaky gak pernah deket sama cewek.” tambah Elvia menjelaskan.
“Masa sih?” tanya Carissa tak percaya.
Elvia menatap Carissa tajam. “Lo gak percaya sama sahabat lo ini?”
Carissa tak menjawab apa pun. Ia terdiam dengan pikiran nya sendiri. Dulu semasa SMP iya pernah jatuh cinta pada kakak kelasnya yang bernama Dzaky. Ternyata Dzaky pun mempunyai perasaan yang sama dengan Carissa. Saat Dzaky menyampaikan perasaannya pada Carissa. Carissa menolaknya, karena Carissa akan pindah ke Surabaya. Dimulai sejak itu Carissa mencoba mengubur perasaannya pada laki-laki yang mempunyai badan tegap dan sorot matanya yang teduh.
“Udah bel nih Sa, jangan ngelamunin ka Dzaky terus.” ceplos Elvia yang menyadari bahwa Carissa tengah melamun.
“Ih siapa yang ngelamunin ka Dzaky. Sok tau.” jawab Carissa beralasan. Elvia hanya tertawa kecil melihat wajah sahabatnya menegang.

Tak terasa bel sekolah pun berbunyi. Jam dinding pun menunjukan pukul 3 sore.
“Sa, lo pulang duluan aja ya? Gue ada rapat osis dulu nih.” ujar Elvia memberitahukan.
Carissa memasang wajah manyun andalannya. “Ya udah deh.”
“Haha, ya udah gue duluan ya.” tutur Elvia seraya berjalan pergi.
Carissa berjalan pelan menyusuri koridor sekolah. Carissa yang tengah mengikat rambutnya yang panjang. Berjalan agak menunduk. Dan tak sengaja tubuh Carissa menabrak seseorang yang tengah membawa tumpukan buku.
“Aww, sakit.” ucap Carissa yang tertimpa buku-buku.
“Aduh maaf.” ucap seseorang yang tengah membereskan buku-bukunya yang berjatuhan.
“Lo gak papa kan?” tanya orang yang menabrak Carissa.
Carissa menggeleng pelan.
“Gue juga yang salah. Jalan sambil nunduk.” jawab Carissa.
Ternyata orang yang menabrak Carissa adalah seorang laki-laki dengan kulit putih dan mempunyai mata yang sipit.
Carissa yang hendak melanjutkan perjalanannya ditahan oleh laki-laki tersebut.
“Tunggu. Anak baru ya?”
Carissa mengangguk.
“Nama?”
“Carissa.”
“XI ipa 4.” tambah Carissa, sebelum laki-laki itu melontarkan pertanyaan selanjutnya. Laki-laki itu pun tersenyum. Dan mempersilahkan Carissa melanjutkan perjalanannya.
‘Oh ade kelas. Cantik’ ujar Daniel dalam hatinya, dan segera membawa buku-buku yang tadi berjatuhan.

“Ya baiklah, rapatnya sampai sini saja dulu. Nanti jika ada hal tambahan kita rapat kembali. Terimakasih untuk partisipasinya.” ucap Dzaky dengan ramah.
Anggota osis yang lain pun, bergegas untuk pulang.
“Vi” sapa Dzaky pada Elvia.
“Eh iya ka?”
“Ada anak baru ya di kelas mu?” tanya Dzaky.
“Iya ka, tau gak siapa anak barunya?” tanya Elvia dengan wajah jailnya.
“Nggak. Emang siapa?”
“Mau tau ya?” tanya Elvia membuat penasaran Dzaky.
“Makannya kak jangan terlalu sibuk sama urusan sendiri. Jadi kudet kan.” tambah Elvia berkomentar.
“Emang siapa sih?”
“Carissa.”
Dzaky menatap Elvia dengan kaget. “Gak lagi bercanda kan?”
“Nggak lah. Kalo gak percaya besok ke kelas XI Ipa 4 deh.”
Dzaky tersenyum simpul pada Elvia. “Ya udah aku pulang dulu ya.” ucap Elvia berpamitan.
Dzaky tak percaya, gadis yang ia cintai dua tahun lalu sampai saat ini. Bersekolah di SMA Pangkal Perjuangan. Entah kenapa perasaan Dzaky pada gadis berlesung pipi itu tak pernah berubah. Ia masih sangat mencintai Carissa.

Elvia berjalan pelan menuju parkiran sekolahnya. SMA Pangkal Perjuangan sudah sepi karena 1 jam yang lalu semua siswa telah pulang.
“Heh tunggu.” ucap seseorang dari belakang.
Elvia menoleh ke belakang. Ternyata kakak kelasnya yang bernama Keyla.
“Ada apa?” tanya Elvia singkat.
“Lo tadi ngomong apa sama Dzaky?”
“Gak ada urusan nya sama kakak.” jawab Elvia.
“Jangan banyak tingkah. Gue kakak kelas lo.” ujar Keyla yang mulai kesal.
“Saya gak banyak tingkah. Tapi emang gak ada hubungannya sama kakak.”
“Maaf saya banyak urusan.” jawab Elvia dan segera meninggalkan Keyla.
Keyla menatap tajam adik kelasnya itu. Keyla tak akan pernah membiarkan ada satu orang cewek pun yang bisa mendapatkan Dzaky selain dirinya.

Matahari hari ini bersinar dengan cerah. Carissa membenarkan kaca matanya. Ini adalah hari kedua ia bersekolah di SMA Pangkal Perjuangan. Carissa sudah mulai bisa beradaptasi di sekolah ini. Alasan ia cepat beradaptasi karena ada Elvia sahabatnya dan satu orang laki-laki yang menjadi cinta pertamanya – Dzaky.
Dari kejauhan Carissa melihat Elvia yang tengah berbincang dengan dua orang laki-laki di depan kelas XI Ipa 4. Carissa melihat ada satu orang laki-laki yang ia temui kemarin. Laki-laki yang membawa tumpukan buku. Dan di sebelahnya seorang laki-laki yang mempunyai badan tegap, kulitnya lumayan putih. Hati Carissa bergetar saat laki-laki bertubuh tegap menatapnya. Laki-laki itu tersenyum pada Carissa. Carissa hanya sanggup mematung dan merasakan debaran jantungannya berpacu diatas normal. Laki-laki itu menghampiri Carissa. Sekarang Carissa tengah berhadapan dengan laki-laki yang membuat debaran jantungnya sangat kencang, yang membuat Carissa diam seribu bahasa, dan juga yang membuat Carissa hanya bisa menunduk saat ini.
“Kenapa nunduk?” ucap laki-laki itu.
“Gak kangen sama kakak?” tambah laki-laki itu lagi.
Carissa menganggkat wajahnya dan tersenyum.
“Aku sangat merindukan mu kak.” ujar Carissa dengan senyuman.
Dzaky membalas senyuman Carissa, dan memberi sebuah coklat untuk Carissa.
“Aku kira kakak udah lupa kalo aku suka coklat.” ujar Carissa.
“Kakak gak mungkin lupa.”
“Makasih.” tutur Carissa dengan senyumnya. Dzaky mengangguk pelan dan berpamitan pada Carissa.

“Gue saling cinta sama Carissa, tapi karena dia pindah ke Surabaya. Dia mutusin gak mau pacaran.” jelas Dzaky pada Daniel.
“Beruntung lo bisa dapet cinta dari cewek setulus Carissa.” jawab Daniel dengan lirih. Ada secuil perasaan perih yang menyelusup di hati Daniel. Ternyata gadis yang ia taksir kemarin cinta pertama sahabatnya sendiri. Daniel harus bisa menahan perasaannya pada Carissa agar tidak bertumbuh semakin banyak. Daniel menghela nafasnya panjang.
“Jagain Carissa Ky.” kalimat itu keluar dari mulut Daniel.
“Tentu.”
Saat Dzaky dan Daniel tengah berbincang bincang di parkiran. Keyla menghampiri mereka.
“Hey Ky, gue pulang bareng lo kan?” tanya Keyla dengan semangat.
“Eh Key, gue ada janji sama seseorang. Lo sama Daniel dulu ya?”
“Janji sama siapa?” tanya Keyla dengan jutek.
“Ada lah.” Dzaky segera memakai helmnya dan mengendarai motor ninja hitamnya meninggalkan Keyla dan Daniel.
“Dzaky ada janji sama siapa sih?”
“Orang spesial. Udah ayo cepet kita pulang.” ujar Daniel.
“Siapa orang spesialnya?”
“Gak tau.” jawab Daniel ketus.

Beberapa minggu berlalu. Carissa benar-benar bahagia bisa bertemu kembali dengan Dzaky. Laki-laki dengan sorot mata teduh itu tak pernah berubah sedikut pun. Ia tetap Dzaky yang selalu melindungi Carissa, tetap Dzaky yang slalu ada untuk Carissa, tetap Dzaky yang tak membiarkan air mata Carissa jatuh sedikit pun.
“makasih kak coklatnya?” ucap Carissa. Dzaky mengangguk pelan dan mencubit pipi Carissa dengan gemas. Mereka berdua pun berbincang-bincang dengan asik di kantin. Dari kejauhan Keyla tengah berdiri menatap Dzaky dan Carissa yang hari demi hari semakin dekat. Dzaky berubah sejak gadis berkaca mata itu hadir. Keyla jarang diajak ke kantin oleh Dzaky, yang biasanya Keyla pulang sekolah bersama Dzaky sekarang tak pernah pulang bersama. Keyla merasa Carissa mengambil perhatian Dzaky darinya.

Kakak tunggu di atas gedung sekolah. Selepas bel pulang berbunyi. *Dzaky

Carissa membaca sebuah memo yang diberikan salah satu siswi SMA Pangkal Perjuangan.
“Wah kak Dzaky ngajakin lo ketemu tuh. Ciyee.” ucap Elvia menggoda.
Carissa menatap memo itu dengan bingung. “Tapi, tadi pas istirahat kok Kak Dzaky gak bilang apa-apa ya soal memo ini.”
“Mungkin mau bikin surprise buat lo. Ya udah gue duluan ya, kalo perlu bantuan hubungi gue.” ujar Elvia.
Carissa mengangguk dan segera berjalan menuju atas gedung sekolahnya. Saat Carissa sampai di atas. Ia tak menemukan sosok yang ia cari. Carissa hanya menemukan seorang gadis berambut sebahu yang tengah membelakangi Carissa.
“Kak Keyla.” panggil Carissa hati-hati.
Gadis itu berbalik menatap Carissa dan memberikan senyum termanisnya dengan sinis.
“Loh kok Keyla ada disini? Kak Dzaky mana?” tanya Carissa.
Keyla melangkahkan kakinya agar tubuhnya berhadapan dengan Carissa. Keyla memegang rambut Carissa yang halus dan menyingkirkan sedikit rambut Carissa ke belakang telinganya.
“Gak ada Dzaky disini. Yang ngirim memo itu gue.” ungkap Keyla pelan.
“Kakak mau apa? Kenapa mesti ngirim memo pake nama kak Dzaky?” tanya Carissa yang mulai merasa takut.
Keyla memegang tangan Carissa pelan. Carissa mencoba melepaskan genggaman tangan Keyla.
“Apa mau kakak?” tanya Carissa bergetar.
“Gue mau… Lo jauhin Dzaky.”
Carissa melebarkan matanya.
“Seharusnya kakak yang harus jauhin kak Dzaky, karena aku dan kak Dzaky saling cinta.” jelas Carissa.
Keyla mengeraskan genggaman tangannya pada Carissa.
“Aww sakit kak, lepasin.” tutur Carissa lirih.
“Oh jadi lo gak mau jauhin Dzaky. Ha PD banget lo bocah. Lo pikir Dzaky cinta sama lo?” bentak Keyla seraya mencakar tangan Carissa dengan kukunya. Carissa menahan air matanya agar tak jatuh. Tangannya perih, darah mulai keluar dari luka yang dicakar Keyla.
“Sakit kak.” ucap Carissa dengan lirih.
“Makanya jauhin Dzaky.” teriak Keyla dengan kencang.
Carissa menggelengkan kepalanya. “Aku cinta sama kak Dzaky.”
“Oke. Gue akan kasih liat sama lo! Siapa yang akan dipilih Dzaky.” ujar Keyla. Tangan Keyla mencakar tangan Carissa sekali lagi. Setelah itu ia pergi meninggalkan Carissa yang terisak di atas gedung sekolah. “Sakit” lirih Carissa di sela-sela tangisnya.

“Ha? Jadi kak Keyla yang aniaya lo nyampe kaya gini?” tanya Elvia dengan suara yang lumayan keras.
Carissa menempelkan telunjuk di bibirnya. “Sssttt. Jangan keras-keras.” ucap Carissa.
“Ih gila tuh kakak kelas. Pokoknya kak Dzaky harus tau semua ini.”
Carissa menggelengkan kepalanya. “Nggak. Gak boleh sampai tau. Gue gak mau ini semua jadi masalah besar.”
“Hey.” sapa Dzaky pada Carissa dan Elvia.
“Eh kakak.” jawab Carissa.
Elvia hanya tersenyum simpul.
“Kakak bawain coklat nih.” ucap Dzaky seraya menyodorkan coklat pada Carissa.
Carissa menerima sodoran coklat dari Dzaky.
“Tangan kamu kenapa Sa?” tanya Dzaky khawatir.
“Tangan aku… Ke kejepit pintu kak.” jawab Carissa berbohong.
“Kamu kok gak hati-hati sih Sa.” omel Dzaky pada Carissa.
‘Kenapa mesti bohong sih Carissa’ batin Elvia, yang mendengar percakapan Dzaky dan Carissa.

Gadis tinggi dengan alisnya yang tebal ini tengah siap-siap untuk tidur. Jam diniding di kamar Elvia sudah menunjukan pukul 21:30. Saat Elvia selesai menggosok gigi nya. Ia menengok smartphone nya yang berbunyi.
“Halo.”
“Halo Vi. Ini tante Rahma. Carissa ada di rumah kamu?” tanya seorang perempuan di seberang telpon.
“Gak ada Tan. Memang kenapa?”
“Carissa belum pulang Vi. Tante telpon tapi gak aktif.” ujar Tante Rahma dengan nada panik.
“Ha? Belum pulang? Tadi emang sih Carissa pulangnya belakangan soalnya dia exkul dulu.” jelas Elvia yang mulai ikut panik.
“Terus gimana ini Vi, tante khawatir.”
“Tenang Tan, sekarang Vi bantu tante cari Carissa.”
“Iya Vi, makasih.” ucap tante Rahma dan telpon pun ditutup.
Elvia yang khawatir dengan Carissa. Segera menyebarkan sms ke semua nomor orang yang mengenal Carissa.

Elvia berlari menyusuri koridor SMA Pangkal Perjuangan bersama Dzaky, Daniel dan seorang Pak Satpam yang menjaga SMA Pangkal Perjuangan. Semilir angin menemani mereka berempat yang mencari Carissa.
“Vi, Carissa nya ada dimana?” tanya Dzaky dengan panik.
“Di ruang exkul jurnalis kayanya.”
“Gila. Tuh tempat gelap banget. Pasti Carissa ketakutan. Sialan, siapa sih yang ngunciin Carissa.” dumel Dzaky yang tengah mempercepat gerakan kakinya. Beberapa meter dekat ruangan exkul jurnalis. Terdengar suara seorang gadis mengucapkan minta tolong dengan lirih.
“Tolong.” ucap Carissa dengan sisa tenaganya.

Carissa sudah hampir 4 jam terkurung di ruang jurnalis. Gadis berkacamata ini sangat takut dengan gelap. Dengan sisa tenaganya ia berteriak berharap ada orang yang menolongnya.
“Sa, kamu di dalam?” tanya Elvia.
“I.. iya Vi.” ucap Carissa lemah.
Tak membuang waktu lama. Pak satpam membuka pintu ruang jurnalis. Dzaky melihat gadis yang ia cintai tengah terduduk lemah, Carissa benar-benar sangat ketakutan. Dengan sigap Dzaky memeluk Carissa, tubuh Carissa yang rintih hanya sanggup mengalirkan air mata di pipinya.
“Aku takut kak.” ucap Carissa dengan bergetar.
“Tenanglah.” ujar Dzaky yang mempererat pelukannya dan memberi kecupan hangat di kening Carissa.

“Gimana rasanya dikurung di ruangan jurnalis?” tanya Keyla yang tengah bersender di tembok toilet perempuan.
Carissa yang mendengar ucapan Keyla membalikan badannya.
“Jadi kakak yang ngurung aku?”
“Kalo iya, kenapa?”
Carissa menatap kakak kelas nya dengan kesal. Namun Carissa masih bisa mengontrol emosinya. Gadis berkaca mata ini mencoba melangkah pergi dari Keyla.
“Gue akan tunjukin. Siapa yang bakal dipilih Dzaky.” tutur Keyla dengan sombong.

Carissa mengaduk-aduk kuah basonya yang hampir dingin. Sudah 2 minggu ia mencari kabar laki-laki yang ia cintai, laki-laki yang mempunyai sorot mata yang teduh, laki-laki yang selalu menjaganya, laki-laki yang begitu ia cintai.
“Kok diaduk-aduk doang baso nya?” tanya Daniel.
“Gak nafsu. Kak Dzaky kok susah ditemui ya? Kakak gak pernah maen bareng kak Dzaky gitu belakangan ini?”
Daniel menggelengkan kepalanya.
“Mungkin kak Dzaky sibuk. Bentar lagi kan dia lengser jadi ketua osis.” jawab Elvia memberi pengertian.
“Kalo kak Dzaky sibuk. Kenapa lo gak sibuk? Lo juga kan anggota osis.”
Elvia terdiam beberapa saat.
“Eh gue juga sibuk.” jawab Elvia gelagapan.
Carissa menghela nafas pelan. Ia berjalan untuk memesan jus. Tak sengaja ia bertabrakan dengan Keyla yang tengah membawa baso.
“Aduh maaf.” ucap Keyla dengan so

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button