Cerpen

Rintikan Air Hujan Menjadi Saksi Kenangan Kecil Milikku

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa siswi berhamburan ke luar kelas. Tidak berbeda dengan mereka, aku pun segera meninggalkan kelas dan menuju gerbang belakang, tempat parkir motor meluruh siswa di SMAN 1. Gerbang belakang tidak jauh dari kelasku, karena kelasku berada di belakang sekolah. Berjalan berdua dengan temanku putri, tapi dari jarak kurang lebih 3 meter aku melihat pintu gerbangnya tertutup dan masih terkunci. Sekitar 20 orang siswa-siswi sedang berdiri, sepertinya menunggu pintu itu terbuka, karena memang jalan gerbang depan jaraknya cukup jauh. Tapi berbeda dengan mereka, aku dan putri langsung menuju ke tempat parkir lewat gerbang depan. Kami berjalan.

Kurang lebih 3 menit sampailah kami di tempat parkir yang cukup luas, dan juga dipenuhi banyak motor. Ya, karena sebagian besar siswa-siswi memgendarai motor. Walaupun sebagian besar dari mereka belum memiliki SIM, termasuk aku “Renita”. Motorku di parkir di depan, sedangkan motor putri di belakang, jadi temanku itu harus berjalan agak jauh untuk menuju ke motornya. Sedangkan aku hanya berjalan sedikit, motorku di parkir di depan karena aku selalu datang pagi-pagi jadi motorku selalu terparkir di barisan depan. Langit mulai mendung, dan tetesan demi tetesan air hujan pun berjatuhan di pipiku yang kusam ini *hinyay.

Terlihat motor seseorang terparkir juga di barisan depan, motor laki-laki yang aku suka. Ternyata motorku dan motornya hanya terhalangi dengan satu motor. Aku pun segera menaiki motorku itu, tapi sebelum aku menghidupkan motorku itu aku membuka bagasi untuk mengambil jaket karena seperti akan turun hujan, kebetulan aku tidak membawa jas hujan, juga tidak memakai helm. Baru saja aku memakai jaket, tapi hujan nya sudah turun dengan lebat. Sebenarnya, ketika aku melihat motorku dan motor Adit dekat, hanya terhalangi oleh satu motor ada keinginan untuk melihatnya dari dekat. Ya, nama laki-laki itu Aditya.

Hujan turun sangat lebat, sudah lebih dari setengah jam aku menunggu hujannya reda. Tapi bukan hanya aku yang menunggu cukup lama, tapi sebagian siswa-siswi melakukan hal yang sama. Hujannya mulai reda, tadinya aku akan langsung pulang walaupun belum reda sepenuhnya, karena masih ada butiran-butiran air hujan yang masih jatuh. Tapi ketika aku akan menghidupkan motorku, tak sengaja aku menengok ke arah samping kanan terlihat beberapa teman Adit yang sedang berdiri sepertinya mereka sedang menunggu sang pujaan hatiku, Adit. Aku pun mengurungkan niatku itu, aku mematikan mesin motorku kembali. Tak apa jika aku harus menunggu satu jam lagi, jika hujan itu turun lagi, asalkan ada dia di sampingku dan aku bisa melihatnya dari jarak dekat.

15 menit berlalu. Adit tak kunjung datang, teman-temannya pun masih berdiri di belakangku. Pintu gerbang belakang pun terbuka, terlihat siswa yang memasuki tempat parkir, dan ada juga yang kembali ke sekolah, mungkin karena bosan menunggu hujan yang semakin membesar, setelah reda sebentar. Aku menengok ke belakang, untuk melihat Adit, tapi dia tak ada. Ku tengok kembali tidak ada, beberapa kali aku menengok tapi tetap tidak ada. Aku kembali menengok, tapi bukan Adit melainkan teman-temannya yang kembali masuk ke sekolah. “Semoga mereka ke sekolah untuk menjemput Adit, amin.” Batinku.

Akhirnya hujan reda, hanya ada butiran air hujan yang turun. Aku menengok ke belakang, yang aku tunggu terlihat batang hidungnya. Adit berada di belakang teman-temannya. Dia memang seperti itu, lemot dalam segala hal, dan sangat pemalu. Di kelasnya pun dia suka disebut “Limpeu” yang entah benar atau tidak artinya lemah atau semacamnya lah, aku juga tidak mengerti. Deg-deg-deg jantungku berdetak kencang, sampai-sampai aku gemetar. Padahal Adit belum ada di samping motorku, tapi aku merasa sangat nervous saat itu. Untuk yang terakhir kalinya aku menengok ke belakang, ternyata dari tadi dia sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya, pantas saja dia tak kunjung datang di sampingku. Sebagian siswa-siswi pergi karena hujan sudah reda.

Aku mendengar suara sepatu, aku mengenal betul langkah kakinya. Aku bisa merasakan kalau itu adalah suara sepatu Adit. Tidak, aku tidak menengok seperti sebelumnya. Jantungku makin berdetak kencang tak karuan, gemetar, tubuh rasanya panas dingin, pokoknya saat itu perasaanku sangat tidak karuan seperti akan di-interview mungkin. Tatapanku hanya ke bawah, rasanya badanku membeku, leherku pun rasanya seperti pakai beton, tidak bisa menoleh sedikt pun terlihat sepatu olah raga berwarna putih plat biru, itu adalah sepatu Adit, aku mengenal betul sepatu itu, itu adalah sepatunya Adit. Menengok pun susah apalagi menatapnya, niatku untuk melihat wajahnya dari dekatku urungkan. Pantas saja teman temannya menyebut dia limpeu karena benar saja dia sangat lama, memakai helm pun sangat lama.

Entah siapa yang dia tunggu, tapi dia diam saja duduk di motornya itu. “Cepatlah pergi Adit,” Batinku. Karena merasa sangat tidak karuan karena dia sekarang di sampingku. Suara motor terdengar, aku tetap dalam keadaan melihat ke bawah. Sepatu itu sudah tidak ada di sampingku. Aku mengangkat kepalaku, Adit masih berada tidak jauh di dekatku, sepertinya dia sedang mencari seseorang. Datanglah seorang wanita dia adalah teman sekelasnya, namanya Dina. Wanita itu pun menaiki motor Adit, lalu motornya melaju. Sedikit kenangan yang aku punya, tetesan air hujan menjadi saksi kenangan kecilku itu. Sebuah cinta yang terselip di hati, sebuah nama yang tertulis di hati yang amat dalam juga wajahnya yang terpotret di otakku. Pulang dengan hati yang amat senang, sedikit kenangan indah dengan Aditya.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita Melviany

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button