Cerpen

Sebuah Cinta Yang Tak Terduga

Pagi ini aku terbangun dari tidur nyenyakku mendengar alarmku berbunyi perlahan aku membuka mataku dan langsung meraih alarm yang ada di samping tempat tidur. Aku melihat waktu telah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Aku segera bangun dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi, setelah beberapa menit aku pun ke luar dari kamar mandi segera siap-siap untuk pergi ke sekolah.

Namaku Atika Zahra Ratifa panggil aja aku Tika. Aku baru pindah dari Bandung ke Jakarta karena orangtuaku ada pekerjaan di Jakarta jadi aku juga harus pindah sekolah. Padahal aku gak mau pindah sekolah tapi ya karena orangtuaku ada pekerjaan di Jakarta ya mau gak mau aku ikut pindah juga. Waktu pun telah menunjukkan pukul 06.30 waktunya pergi ke sekolah, aku segera menuruni anak tangga dan bergegas menuju ruang makan di sana ada orangtuaku dan kakakku sedang sarapan.

“Pagi Ma, Pa, Kak” sapaku pada mereka.
“pagi sayang” jawab papa dan mamaku serentak.
“pagi juga Dek” jawab Kak Aldo.
“sarapan dulu sayang hari ini hari pertama kamu sekolah di jakarta jangan sampai sakit” ucap mamaku.
“iya Ma” jawabku lesu.

“kamu kenapa sayang?” tanya papaku heran.
“aku bete Pa kenapa sih kita harus pindah ke Jakarta di Bandung kan seru di sana banyak teman-teman aku” ucapku sambil memanyunkan bibir.
“Papa kan ada pekerjaan di sini gak mungkin kan Papa tolak ya mau gak mau kita harus pindah, nanti juga kamu pasti dapat teman yang lebih baik dari teman-teman kamu di Bandung” ucap papa meyakinkanku.
“iya deh Pa” ucapku singkat.

“ya udah cepet habisi makanannya dek nanti kamu telat lagi biar Kakak yang nganter kamu” ucap Kak Aldo padaku, memang Kak Aldo itu sosok kakak yang sangat perhatian sama adiknya dan aku beruntung mempunyai kakak sepertinya.
“aduuh tumben baik bener Kakakku yang satu ini” ucapku sambil mengacak rambut kakakku.
“aduuuuhh jangan ngacak rambut dong entar kecenya hilang.” ucap Kak Aldo pede.
“idiih pede bener deh Kakakku yang satu ini ya udah yuk nanti aku telat lagi” ucapku dan langsung berpamitan sama orangtuaku.

“Pa, Ma aku berangkat dulu ya assalamualaikum” pamitku sambil mencium tangan kedua orangtuaku.
“iya Nak hati-hati ya” ucap orangtuaku serentak.
“Pa, Ma aku pamit antar adek dulu ya sekalian aku mau kuliah.” ucap Kak Aldo
“iya Do hati-hati ya kamu ngendarai mobilnya” ucap mamaku mengingatkan pada kakakku. Kak Aldo dan aku pun langsung masuk ke mobil dan pergi ke sekolah di mobil aku dan Kak Aldo pun berbincang- bincang tidak terasa aku sudah sampai di sekolah.

“udah sampai tuh” ucap Kak Aldo.
“iya Kak aku sekolah dulu ya daa Kak.” pamitku pada Kak Aldo.
“iya yang rajin belajarnya ya Adekku sayang” ucap Kak Aldo.
Aku pun ke luar dari mobil dan masuk ke sekolah karena aku murid baru dan aku gak tahu kelas aku di mana jadi aku harus ke ruang Kepala Sekolah. Aku pun mencari ruang kepala sekolah tiba-tiba aku menabrak pria.

“aduuuh, jalan pakai mata dong!” ucap pria itu kesal.
“maaf aku gak sengaja tadi” ucapku menunduk.
“enak aja bilang maaf sakit nih!” ucap pria itu sambil memegang lututnya yang sakit.
“maaf aku gak sengaja.” ucapku menunduk karena merasa bersalah.
“ya udah gak apa-apa lain kali hati-hati ya jalannya.” ucap pria itu luluh karena melihat wajahku yang merasa bersalah tadi.

“iya lain kali aku hati-hati makasih ya udah dimaafin” ucapku pada pria itu.
“iya sama-sama, kamu mau ke mana?” tanya pria itu.
“aku mau ke ruang kepala sekolah tapi gak tahu ruangannya di mana” jawabku.
“ya udah yuk aku antar” tawar pria itu.

Aku mengikuti pria itu dari belakang sampai di ruang kepala sekolah aku pun diantar ke kelas dengan Bapak Kepala Sekolah. Di kelas aku dipersilahkan masuk dengan guru yang mengajar namanya Bu Putri. Bu Putri menyuruhku memperkenalkan diri aku pun mengikuti perkataan Ibu Putri. “hai teman-teman namaku Atika Zahra Ratifa aku pindahan dari Bandung kalian bisa panggil aku Tika semoga kalian senang ya atas kehadiranku di sini.” ucapku memperkenalkan diri. Setelah perkenalan diri aku disuruh Bu Putri duduk.

“silahkan Tika kamu duduk di sebelah Dinda ya” ucap Bu Putri mempersilahkan aku duduk.
“iya Bu terima kasih.” ucapku aku pun langsung duduk dan mengikuti pelajaran tak lama pun bel berbunyi menandakan waktunya istirahat. Dinda mengajakku ke kantin aku mengikutinya dan langsung memesan makanan. Sambil menunggu makanan datang aku dan Dinda saling bercanda. Tak lama datang pria yang aku tabrak tadi pagi ke arahku.

“kamu cewek yang tadi pagi kan?” tanyanya padaku.
“iya kamu yang tadi pagi aku tabrak kan? sekali lagi maaf ya atas kejadian tadi pagi” ucapku meminta maaf kembali padanya karena masih merasa bersalah.
“udahlah gak apa-apa kok. Kamu minta maaf mulu lupain aja kejadian tadi, kamu kelas berapa?” Ucap pria tadi bertanya padaku.
“aku kelas 11” ucapku.
“oh aku kelas 12” ucap pria itu.
“kakak kelas ya?” ucapku.

“nama kamu siapa dari tadi kita ngobrol belum tahu nama?” Tanya pria itu.
“namaku Tika.” ucapku.
“namaku Dimas.” ucap Dimas.
“hmmm dari tadi aku dicuekin mulu” ucap Dinda kesal.
“gak kok Din aku gak cuekin kamu kok, ya udah deh yuk kita makan aja.” ucapku pada Dinda.
“kak Dimas gak makan?” tanyaku pada Dimas.
“Itu lagi dipesan kamu makan aja duluan gak apa-apa kok” ucap Dimas mempersilahkan kami makan.

Tak lama pun bel masuk berbunyi menandakan jam istirahat telah selesai. Aku dan Dinda pun masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya. Tak lama pun bel pulang berbunyi kami bersiap-siap untuk pulang. Aku dan Dinda pun menunggu di gerbang. Aku menunggu Kak Aldo menjemputku.
“kamu di jemput ya Din?” tanyaku pada Dinda.
“iya Tika kamu dijemput sama siapa?” tanya Dinda balik padaku.
“aku dijemput Kakakku” ucapku.

“Kakakmu cowok?” tanya Dinda padaku.
“iya Din namanya Kak Aldo.” ucapku.
“wah enak banget ya punya Kakak cowok perhatian lagi sama adeknya kan jarang ada Kakak mau ngejemput Adiknya” ucap Dinda. Tak lama Kak Aldo pun datang menjemputku.
“aku duluan ya Din” pamitku pada Dinda.
“iya tik hati-hati ya.” ucap Dinda padaku ternyata dia melihat Kak Aldo tanpa aku sadari. Aku segera masuk ke mobil. Di sepanjang perjalanan Kak Aldo pun menanyakan tentang Dinda.

“dek teman kamu yang tadi namanya siapa?” tanya kakakku.
“siapa Kak, Dinda? emang kenapa Kak? Apa jangan-jangan Kak Aldo naksir lagi sama Dinda.” godaku pada Kak Aldo.
“Ihh apaan sih kamu dek” ucap kakakku malu.
“ih Kakak mukanya merah hayooo suka ya sama Dinda?” godaku lagi karena aku senang banget lihat Kak Aldo salah tingkah.

“dek ajak-ajak dong Dinda main ke rumah” pinta Kak Aldo padaku.
“ihh ngapain pasti mau modus ya haha.” candaku pada Kak Aldo.
“ihh kamu nyebelin banget sih” ucap Kak Aldo menarik hidungku.
“aduuh sakit tahu Kak!” ucapku sambil memegangi hidungku.
“ya udah deh Kak aku mau ke kamar mau ganti baju.” ucapku kembali dan langsung ke kamar.

Setelah ganti baju aku pun mendengar handphone-ku berbunyi pertanda ada telepon masuk ternyata dari Dimas. Entah dari mana dia tahu nomorku padahal aku gak pernah kasih nomorku padanya. Ternyata tanpa ku sadari Dimas meminta nomorku pada Dinda. Aku pun mengangkat teleponnya.
“hai Tika” sapa Dimas.
“hai ini siapa ya?” tanyaku bingung siapa yang meneleponku.
“ini aku Dimas” ucap Dimas.

“oh Kak Dimas. Kakak dapat nomor aku dari mana Kak?” tanyaku pada Dimas.
“dari Dinda gak apa-apa kan aku minta nomor kamu sama Dinda?” tanya Dimas.
“ya gak apa-apa lah Kak. Cuma tadi aku bingung aja siapa yang nelepon soalnya gak ada namanya.” ucapku pada Dimas.
“aduuh maaf ya aku jadi ngebuat kamu bingung nih” ucap Dimas.
“iya Kak gak apa-apa.” ucapku.
“panggil Dimas aja Tik jangan panggil Kak” ucap Dimas yang gak mau dipanggil kakak.
“tapi aku gak enak manggil kamu Dimas aja kamu kan kakak kelas aku jadi gak mungkin lah aku manggil kamu Dimas aja.” ucapku.

Aku dan Dimas pun teleponan sampai malam. Keesokkan harinya aku telah siap untuk pergi ke sekolah tiba-tiba Kak Aldo pun menggodaku karena aku jarang banget pagi-pagi udah bangun dan udah tiba di meja makan duluan sebelum orangtuaku. “tumben banget kamu bangun duluan jangan-jangan ada sesuatu nih?” ucap Kak Aldo.
“ih apaan sih Kak” ucapku tersipu malu.

“kakak antarin kamu ya hari ini?” tawar Kak Aldo karena hari ini Kak Aldo mau mengantarku cuma karena Dinda.
“gak bisa Kak aku udah ada janji mau pergi sama Kak Dimas.” ucapku pada Kak Aldo.
“siapa lagi Kak Dimas? hebat kamu ya baru aja masuk sekolah udah dapat gebetan” ucap Kak Aldo menggodaku.
“ihh udah deh Kak aku udah dijemput tuh aku pergi dulu ya assalamualaikum.” ucapku pamit pada kakakku.
“waalaikumsallam hati-hati ya dek jangan lupa ajakin Dinda ke rumah” ucap Kak Aldo.
“iya Kak” ucapku.

Aku pun segera ke luar di sana sudah ada Kak Dimas menungguku.
“pagi Tika, kamu cantik banget hari ini” ucap Dimas memujiku.
“bisa aja kakak ini” ucapku tersipu malu. Dimas tersenyum melihat tingkahku.
“panggil aku Dimas aja Tik jangan pakai kakak” ucap Dimas mengingatkan.
“iya deh aku panggil kamu Dimas.” ucapku dan membiasakan memanggilnya tanpa sebutan kakak.
“ya udah yuk kita berangkat entar telat lagi.” ucap Dimas.

Kami pun segera pergi ke sekolah karena takut terlambat sepanjang perjalanan jantungku berdetak sangat kencang. Aku gak tahu apa yang aku rasakan saat ini yang jelas aku sangat senang bisa bersama Dimas. “Akhirnya sampai, untung kita gak telat.” ucap Dimas. Kami pun langsung masuk ke dalam. Semua mata tertuju pada kami. Aku dan Dimas pun masuk ke kelas masing-masing, tiba-tiba ada yang mencariku di kelas. Aku pun bingung karena aku gak kenal sama orang itu dan aku tanya ke Dinda ternyata dia adalah mantannya Dimas namanya Tania.

“heh kamu, sebaiknya kamu jauhi Dimas soalnya Dimas itu milikku.” ucap Tania, sambil mendorongku kasar.
Jujur saat ini hatiku sakit karena dengar perkataan Tania tadi entah apa yang aku rasakan saat ini karena hati aku serasa teriris-iris dengar perkataan Tania tadi.
“kamu harus jauhi Dimas kalau enggak kamu bakal nanggung akibatnya!” ancam Tania dan langsung meninggalkan kelasku. Tak sadar air mataku pun menetes karena aku bingung harus bagaimana tapi aku harus menjauhi Dimas walupun gak bisa tapi aku harus coba.

Waktu istirahat Dimas menghampiriku tapi aku malah menjauh dari dia. Dimas pun heran dengan sifatku yang sekarang karena dia tidak tahu permasalahan awalnya penyebab aku menjauhi dia. Sudah seminggu aku menjauh dari Dimas setiap dia telepon atau pun sms gak pernah aku angkat ataupun aku balas sampai akhirnya Dimas tahu permasalahannya itu terjadi karena Tania Dimas langsung menemui Tania dan marah padanya.

“heh Tan apa yang kamu lakukan pada Tika sampai ngebuat dia menjauh dariku?” ucap Dimas pada Tania.
“gak ngelakuin apa-apa aku cuma bilang sama dia buat ngejauhin kamu karena kamu milikku” ucap Tania enteng.
“kita gak ada hubungan apa-apa lagi ya Tan. Hubungan kita udah berakhir kamu gak berhak buat ikut campur urusan aku, dan kamu jangan pernah sakiti Tika lagi ngerti kamu?!” ucap Dimas kesal pada Tania dan langsung meninggalkannya Dimas langsung menemuiku untuk menjelaskan masalah ini.

Tania terdiam dia sangat kesal dengan perkataan Dimas padanya. Dan dia ingin merusak hubunganku dengan Dimas. Dimas sudah sampai di rumahku dia pun menjelaskan semuanya padaku. “Tika kamu jangan salah paham ya, aku sama Tania sudah gak ada hubungan apa-apa lagi.” ucap Dimas meyakinkanku karena dia tidak mau aku marah padanya.
“aku gak apa-apa kok Dim aku kayak gini cuma gak mau dibilang perusak hubungan orang aja jadi ya aku lebih baik mundur.” ucapku.

Tak terasa air mataku pun menetes lagi dengan cepat Dimas menghapus air mataku karena dia enggak tega melihat perempuan menangis. “kamu kenapa nangis Tika udah dong. Aku gak bisa lihat kamu nangis. Aku udah kasih peringatan pada Tania biar dia gak ganggu kamu lagi. Udah ya jangan nangis lagi senyum dong” ucap Dimas sambil mengembangkan senyumku dengan jarinya. Aku pun tersenyum tipis.

“nah gitu dong kan cantik kalau senyum gak kayak tadi jelek kamu nangis” ledek Dimas padaku.
“ih apa sih rese ya” ucapku kesal pada Dimas dan langsung mencubiti tangan Dimas.
“aduuh sakit tahu aku gelitiki nih” ucap Dimas padaku.
“Jangan Dim geli tahu.” ucapku Dimas tidak mempedulikan perkataanku dia langsung menggelitikiku aku pun tak tahan menahan tawa.

“hahaha sudah dong Dim cape tahu.” ucapku tak berhenti tertawa.
“ya udah deh aku berhenti gelitiki kamu tapi kamu janji jangan sedih lagi.” ucap Dimas.
“ya aku janji tapi jangan gelitiki aku lagi” pintaku padanya.
“gini dong ketawa kan tambah cantik” gombal Dimas padaku.
“ih apaan gombal banget deh entar aku ngambek lagi loh.” ucapku pada Dimas.

Memang gak bisa disembunyikan hatiku sangat senang karena sudah hampir seminggu tidak ada komunikasi sama Dimas. Dan akhirnya sekarang aku bisa tersenyum karenanya tapi aku gak tahu apa perasaan Dimas sama denganku aku hanya bisa menunggu. “eh jangan ngambek lagi dong kan gak enak kamu diamin aku selama seminggu aku sedih tahu” ucap Dimas membuatku tambah senang hari ini. Tapi aku gak tahu itu perkataan jujur dari hatinya atau tidak. Aku pun pulang bersama Dimas. Di rumahku ada Dinda dan Kak Aldo memang mereka sudah jadian aku pun menggoda mereka.

“ciiiieeee.. berduaan terus kayak perangko.” ucapku pada Dinda dan Kak Aldo.
“apaan sih dek, iri ya? hahaha” tawa kakakku.
“apaan sih Kak aku gak iri kok” ucapku.
“makanya Tik cepetan tuh suruh sih Dimas ungkapin perasaannya.” ucap Dinda.
“perasaan apa? kan belum tentu dia punya perasaan yang sama denganku.” ucapku lirih.
“tapi aku rasa sih Dimas juga ada perasaan sama kamu Tik.” ucap Dinda.
“semoga deh Din.” ucapku pada Dinda.

Sorenya aku dan Dimas pergi ke taman karena Dimas yang menggajakku ke sana entahlah apa yang direncanakan sama Dimas. Tapi sebelumnya di sekolah ternyata Tania mendengar rencana Dimas dan aku entahlah apa yang bakal dilakukan Tania padaku dan Dimas. Dimas sudah ada di depan rumahku aku ke luar memakai Dress warna biru selutut dan rambutku ku biarkan terurai biar kelihatan lebih simpel. Dimas melihatku pun terdiam tak berkedip.

“hei kamu kenapa?” tanyaku heran.
“kamu cantik banget” ucap Dimas tetap melihatku.
Aku pun tersenyum melihat tingkahnya, “udah yuk kita langsung pergi aja nanti malah kesorean lagi.” ucapku karena takut kemalaman perginya.
Di sana pun aku dilihat banyak orang membuat aku gak pede.

“Dim lihat deh mereka lihatin aku terus apa ada yang salah ya denganku?” ucapku tak pede.
“gak kok gak ada yang salah sama kamu orang-orang ngelihatin kamu itu karena kamu cantik makanya semuanya ngelihatin kamu” ucap Dimas.
“iihh Dimas aku serius tahu, kamu mah malah bercanda” ucapku yang menganggap perkataan Dimas tadi candaan.
“siapa yang bercanda orang serius kok kamu itu cantik banget. Udah deh ya kamu gak usah mikir yang macam-macam mereka itu ngelihatin kamu karena kamu cantik.”

Seketika hening Dimas seperti ingin menyampaikan sesuatu padaku.
“kamu kenapa Dim?” tanyaku pada Dimas.
“oh gak apa-apa, Tika aku boleh ngomong sesuatu gak ke kamu?” ucap Dimas.
“boleh emang kamu mau ngomong apa kok kayaknya serius banget.” tanyaku polos karena gak tahu Dimas mau ngomong apa. “aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” ucap Dimas cepat. Mataku seketika membola mendengar perkataan Dimas padaku.

“hah? kamu bercanda ya Dim? haha lucu kamu” ucapku menganggap perkataan Dimas hanya sekedar lelucon.
“gak kok aku serius. Tika aku sayang sama kamu, aku nyaman sama kamu. Dari awal kita ketemu aku udah suka sama kamu Tika. Jadi gimana kamu mau? kalau kamu nolak juga gak apa-apa kok.” tanya Dimas memastikan.
“iya aku mau” jawabku.
“beneran?” ucap Dimas meyakinkan ucapanku.
“iya dim.”

Di sisi lain ada seseorang yang mengintip kami. Orang itu ialah Tania yang tadi di sekolah mendengar percakapanku dengan Dimas. “kalian boleh senang dulu entar aku bakalan hancurin hubangan kalian!” ucap Tania tersenyum sinis. Aku dan Dimas pun menuju suatu tempat yang telah Dimas siapkan untukku. Tempat itu sangat indah dan di sana ada taburan bunga yang berbentuk hati. Aku senang banget seketika air mataku menetes. Aku menangis bahagia karena penantianku selama ini berujung bahagia.

“kamu kenapa nangis Tika? gak suka ya dengan kejutan ini? maaf deh kalau kamu mau aku bakalan hancurin ini semua.” ucap Dimas yang ingin menghancurkan taburan bunga itu.
“eh jangan dong Dim! aku nangis bukan karena ini gak bagus malah aku suka banget dengan ini semua. Aku nangis bahagia Dim karena aku bisa bersatu sama kamu sesuai yang aku harapkan.” ucapku pada Dimas.
“syukur deh aku kira kamu gak suka dengan kejutan ini. Aku juga bahagia banget karena akhirnya aku bisa ungkapin perasaan aku ke kamu setelah 5 bulan aku pendam.” ucap Dimas.
“udah mau malam nih pulang yuk aku takut dicariin sama orangtuaku” ucapku pada Dimas.

Kami pun segera meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah. Sampai di rumah aku masih tersenyum ternyata ada kakakku. Dia curiga kenapa aku tersenyum seperti itu karena gak biasanya aku bertingkah seperti itu, dia pun bertanya padaku. “kenapa kamu dek? bahagia banget kayaknya.” tanya kakakku.
“hehe gak ada kok Kak” ucapku.
“hayoo ngaku ada apa? jangan rahasia-rahasiaan sama Kakak atau jangan-jangan kamu udah jadian ya sama Dimas?” ucap kakakku.
“ih enggak kok.” ucapku.

“udah deh gak usah bohong jujur aja sama Kakak. Tapi ingat ya si Dimas jangan sampai nyakiti kamu, kalau dia berani nyakiti kamu Kakak bakalan habisi dia.” ucap kakakku yang gak mau adik kesayangannya itu tersakiti.
“iya deh Kak gak mungkinlah Dimas nyakiti aku, dia baik kok Kakak tenang aja ya.” ucapku pada kakakku itu dan langsung pergi ke kamar. Di sana aku langsung lompat-lompat kegirangan karena akhirnya aku dan Dimas pun resmi jadiaan.

Seketika waktu aku sedang jalan sama Dimas tiba-tiba ada mobil lewat di hadapanku dengan cepat Dimas mendorong tubuhku. Dan akhirnya dia yang ditabrak mobil. Semua badan Dimas sudah dilumuri darah. Aku pun menangis tak kuat melihat Dimas seperti itu. Aku segera membawanya ke rumah sakit untung aku cepat membawanya ke rumah sakit kalau tidak bisa-bisa dia udah tak sadarkan diri.

Di sisi lain pun ada yang sedang gelisah karena sasaran yang dia tabrak tadi itu salah dan malah mengenai orang yang dia cintai. Ya ternyata orang itu adalah Tania dia yang rencanai semuanya. Aku setia menunggu Dimas di rumah sakit karena sudah 10 hari Dimas tak sadarkan diri. Aku pun menangis. “kenapa sih harus kamu yang ditabrak kenapa gak aku aja Dim? aku gak kuat dim lihat kondisi kamu seperti ini” ucapku tak kuasa menahan air mata. Setelah lama Dimas koma akhirnya dia sadarkan diri Dimas tersenyum melihatku yang setia menunggunya.

“Dimas kamu udah sadar?” ucapku mengeluarkan air mata.
“iya sayang aku udah sadar kamu jangan nangis ya aku gak apa-apa kok” ucap Dimas menghiburku.
“gak Dim gara-gara aku kamu kayak gini seharusnya biarin aja kemarin aku yang ketabrak.” tangisku semakin memecah.

“ini bukan salah kamu ini sudah kewajiban aku menjaga kamu. Aku rela seperti ini karena aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Lebih baik aku yang menderita daripada aku harus melihat orang yang aku cintai menderita itu lebih sakit.” ucap Dimas perlahan menggenggam tanganku.
“tapi aku gak tega lihat kamu seperti ini dim, hiks..” ucapku menangis tersedu.

Dokter pun masuk ke ruangan Dimas untuk memeriksa kesehatan Dimas.
“gimana keadaan anak saya dok?” ucap bundanya Dimas yang baru saja datang.
“anak Ibu kondisinya mulai membaik tapi tetap belum boleh pulang karena kondisinya belum begitu stabil.” ucap dokter. Mendengar perkataan dokter itu perasaanku sedikit lega.
“Tika kamu sebaiknya pulang dulu ya istirahat. Kasihan kamu menjaga Dimas selama 10 hari ini kamu pasti lelah.” Ucap bunda Dimas padaku.

“gak kok Bun, aku masih mau ngejagain Dimas.” ucapku tak mau pulang.
“sayang benar tuh kata Bunda lebih baik kamu istirahat ya, entar kamu sakit. Aku gak mau kamu sakit kan masih ada Bunda di sini yang jagain aku” ucap Dimas padaku yang menyuruhku pulang karena memang dari awal Dimas sakit sampai sekarang aku belum ada pulang ke rumah. Paling pulang hanya sekedar ambil baju ganti dan langsung pergi ke rumah sakit lagi. “ya udah aku pulang tapi nanti aku janji bakalan kembali lagi” ucapku dan langsung pulang ke rumah.

Keesokan harinya Dimas sudah diizinkan pulang oleh dokter karena Dimas sudah lumayan membaik. Aku ikut mengantarnya pulang. Aku mengantarkannya ke kamar.
“Tika aku suntuk nih kita ke danau yuk” ajak Dimas padaku.
“gak Dim kamu kan baru sembuh nanti kamu kecapean lagi, malah tambah sakit. Udahlah di sini aja kalau kamu udah sembuh baru kita ke danaunya” ucapku melarang Dimas.
“yah kamu gak kasihan sama aku udah lama aku gak ke luar. Aku ingin hirup udara segar Tik, sebentar aja janji deh gak lama” ucap Dimas.
“ya udah deh ayo tapi janji ya gak lama sebentar aja” ucapku dan langsung pergi ke danau. Di sana aku sangat menikmati udara yang sangat sejuk aku pun tersenyum begitu pun dengan Dimas dia sangat bahagia.

“aku bahagia Tika akhirnya aku bisa bersama kamu lagi dan aku bersyukur aku bisa melewati masa kritisku. Dan aku gak mau kehilangan kamu tik aku sayang banget sama kamu” ucap Dimas padaku. “iya Dim aku juga bahagia banget kamu bisa sembuh aku juga gak mau kehilangan kamu Dim” ucapku.
“aku janji aku gak akan pernah ninggalin kamu.” ucap Dimas.
“iya Dim aku juga janji gak akan pernah ninggalin kamu.” ucapku.
Akhirnya semua pun bahagia tanpa ada orang yang menggangu. Dan Tania dia sudah dipenjara dan tidak ada lagi yang bisa merusak hubungan kita berdua.

Cerpen Karangan: Wicha Alvionita
Facebook: Wicha Alvionita

 

Show More

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button